Khutbah Idul Fitri 1446 H Merajut Kembali Fitrah, Memperkuat Ukhuwah: Meneguhkan Persatuan Umat di Tengah Pesta Demokrasi
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.
Kaum muslimin wal muslimat, jamaah shalat Idul Fitri yang semoga senantiasa dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Pagi yang penuh keagungan ini, di hari yang fitri, kita kembali berkumpul, bersatu dalam lantunan takbir yang menggetarkan langit dan hati. Kita memuji Allah atas segala nikmat yang tak terhingga, terutama nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk kembali merayakan Idul Fitri setelah menunaikan ibadah Ramadhan yang penuh berkah. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Idul Fitri adalah simbol kemenangan. Kemenangan atas diri sendiri, atas hawa nafsu yang selama sebulan penuh kita coba kendalikan. Kemenangan atas ujian lapar dan dahaga, yang mengingatkan kita akan saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Kemenangan ini adalah anugerah dari Allah, yang patut kita syukuri dengan setulus hati. Namun, kemenangan ini bukanlah garis akhir, melainkan sebuah awal baru. Awal untuk merajut kembali fitrah kesucian yang telah kita bersihkan, dan untuk mempererat ukhuwah Islamiyah yang menjadi kekuatan umat ini.
Merajut Kembali Fitrah: Esensi Kemenangan Hakiki
Fitrah, secara bahasa berarti suci atau bersih. Dalam konteks agama, fitrah adalah potensi dasar kebaikan yang Allah tanamkan dalam diri setiap manusia sejak lahir. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا2 يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai dengan) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum:4 30)
Ramadhan hadir sebagai madrasah ruhaniah, tempat kita membersihkan diri dari kotoran dosa dan hawa nafsu yang dapat menutupi fitrah kita. Puasa, shalat malam, sedekah, dan tadarus Al-Qur’an adalah upaya-upaya untuk mengembalikan fitrah kita kepada kesuciannya. Idul Fitri adalah momentum untuk merayakan keberhasilan kita dalam proses pembersihan ini.
Namun, yang lebih penting adalah bagaimana kita menjaga fitrah ini setelah Ramadhan berlalu. Bagaimana kita mengaplikasikan nilai-nilai kesucian, kejujuran, kasih sayang, dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari? Menjaga lisan dari perkataan yang buruk, menghindari ghibah dan fitnah, bersikap jujur dalam setiap transaksi, serta mengedepankan keadilan dalam setiap tindakan adalah manifestasi dari menjaga fitrah. Istiqomah dalam beribadah, meskipun kecil, adalah kunci untuk memelihara cahaya fitrah ini agar tidak redup kembali.
Memperkuat Ukhuwah Islamiyah: Pilar Kekuatan Umat
Selain fitrah, Idul Fitri juga menjadi pengingat akan pentingnya ukhuwah Islamiyah. Persaudaraan sesama Muslim adalah ikatan yang sangat kuat, yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ5
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”6 (QS. Al-Hujurat: 10)
Semangat saling memaafkan, bersilaturahmi, dan berbagi kebahagiaan yang mewarnai Idul Fitri adalah perwujudan nyata dari ukhuwah ini. Kita saling mengunjungi, bertukar ucapan selamat, melupakan kesalahan yang lalu, dan mempererat tali persaudaraan. Ini adalah momen yang sangat berharga untuk menghilangkan segala bentuk perselisihan dan membangun kembali jembatan persaudaraan yang mungkin sempat retak.
Ukhuwah di Tengah Pesta Demokrasi: Menjaga Persatuan Umat
Jamaah yang dirahmati Allah,
Tahun 2025 ini, di beberapa daerah kita sedang melaksanakan pesta demokrasi, yaitu Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Sebuah proses penting dalam menentukan arah pembangunan daerah kita ke depan. Namun, seringkali, proses demokrasi ini diwarnai dengan perbedaan pilihan, bahkan perselisihan yang tajam. Di sinilah pentingnya kita sebagai umat Islam untuk tetap menjaga ukhuwah Islamiyah.
Perbedaan pilihan politik adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Namun, perbedaan ini jangan sampai merusak persaudaraan kita sebagai sesama Muslim. Kita harus ingat bahwa ikatan keimanan jauh lebih kuat daripada perbedaan pandangan politik. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا7 ۖ وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ8
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu,10 maka dengan nikmat Allah kamu menjadi bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, supaya kamu mendapat petunjuk.”12 (QS. Ali Imran: 103)
Dalam menghadapi Pilkada, mari kita kedepankan akhlakul karimah. Hindari perkataan yang kasar, fitnah, dan ujaran kebencian. Hormati perbedaan pendapat, dan fokuslah pada bagaimana kita bisa bersama-sama membangun daerah kita menjadi lebih baik, siapapun pemimpin yang terpilih nanti. Ingatlah bahwa tujuan utama kita adalah mencari ridha Allah, bukan sekadar memenangkan kelompok tertentu.
Refleksi dan Harapan di Tahun 2025
Jamaah yang mulia,
Idul Fitri tahun 1446 H ini hadir di tengah dinamika kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang cukup kompleks. Mari kita jadikan momen ini sebagai refleksi mendalam. Apakah kita telah benar-benar menjaga fitrah kita? Apakah ukhuwah Islamiyah di antara kita sudah terjalin dengan kuat? Bagaimana kita bisa berkontribusi positif dalam menjaga persatuan umat, terutama di tengah proses demokrasi yang sedang berjalan?
Kita berharap dan berdoa agar Allah menerima seluruh amal ibadah kita selama Ramadan, mengampuni segala kesalahan dan kekurangan kita, dan memberikan kekuatan kepada kita untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik. Mari kita sambut tahun 2025 dengan semangat baru, dengan tekad untuk merajut kembali fitrah kita, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan berkontribusi dalam membangun masyarakat yang adil, makmur, dan berakhlak mulia.
Kita percaya bahwa tantangan akan selalu ada. Namun, dengan iman yang kokoh, ukhuwah yang kuat, dan semangat gotong royong, kita akan mampu menghadapi segala ujian dan meraih kemenangan yang hakiki, kemenangan yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ13 هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.
Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah,
Marilah kita kembali memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya. Di hari yang mulia ini, kita diingatkan kembali akan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam, serta menjauhi segala bentuk perpecahan dan permusuhan.
Kita juga diingatkan untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dalam ibadah maupun dalam muamalah. Idul Fitri bukanlah akhir dari ibadah, melainkan awal dari kehidupan yang lebih baik, yang diwarnai dengan ketaatan dan pengabdian kepada Allah.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا هَذِهِ بَلْدَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَارْزُقْ أَهْلَهَا مِنَ الثَّمَرَاتِ، وَاجْنُبْنَا الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ،15 وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ وَكُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.




