Ngaji

Ketika Dunia Berakhir: Mengungkap Misteri Hari Kiamat dalam Al-Qur’an dan Hadis

  • HARI KIAMAT

Hari kiamat sering juga disebut dengan dengan hari akhir (al-yaum al akhir). Kata ini menunjuk hari terakhir dan hari penghabisan dari hari-hari kehidupan dunia ini, sekaligus hari pertama dari kehidupan kedua, dan juga mempunyai makna kebinasaan alam semuanya dan terhentinya kehidupan ini secara total. Selain itu, kata ini juga mengandung pengertian memasuki kehidupan akhirat dan dimulainya kehidupan tersebut. Sekurang-kurangnya ada lebih dari 80 nama hari Kiamat, dan terdapat lebih 20 nama hari Kiamat yang termasyhur dan diabadikan dalam Al-Qur’an. Wajar jika al-Qurtubi mengatakan: “Segala sesuatu yang besar kondisinya maka berbilang sifatnya dan banyak namanya. Banyak ayat Al-Qur’an dan hadis sahih yang menerangkan bahwa kiamat telah dekat.”

Mengetahui secara pasti kapan datangnya hari Kiamat merupakan hal gaib yang hanya dimiliki Allah. Tidak ada se orang pun penghuni langit dan bumi yang mengetahui kapan datangnya hari Kiamat

(al-A’raf/7: 187, al-Ahzab/33: 63). Jadi, puncak pengetahuan hari Kiamat milik Allah semata. Karena itulah ketika Jibril bertanya kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tentang waktu terjadinya hari Kiamat-sebagaimana disebutkan dalam hadis-Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tentang kiamat tidak lebih tahu dari pada penanya.”

Keimanan kepada hari akhir menuntut pembenaran terhadap pemberitaan Allah tentang kebinasaan kehidupan dunia ini yang didahului beberapa tanda, kejadian besar yang menakutkan, dan perubahan besar. Keimanan ini juga menuntut pem-benaran terhadap pemberitaan Allah tentang kehidupan akhirat yang beris nikmat dan siksa, kejadian-kejadian besa seperti pembangkitan segala makhlu pengumpulan dan penghisaban merek serta pemberian imbalan atas perbua sadar yang mereka lakukan dal kehidupan dunia ini.

Mengingat pentingnya keima kepada hari akhir ini, Allah subh wa taala  dalam beberapa ayat Al-Qur’an Menghubungkan antara iman kepada-Nya dengan iman kepada hari akhir, antara lain dapat dilihat pada firman-Nya dalam Surah al-Baqarah/2: 177:

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu salah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir. (al-Baqarah/2:177)

Contoh ayat lain yang terkait dengan rangkaian iman kepada Allah dan hari akhir dapat dilihat pada Surah an-Nisä/4: 59. Secara global, doktrin iman kepada Allah dan hari akhir merupakan bagian dari rukun iman yang enam, yang atas dasar keimanan ini manusia dapat membangun keistikamahannya dalam beribadah, dan meningkatkan keluhuran budi pekerti nya serta kebersihan rohaninya. Tanpa keimanan ini, manusia menjadi makhluk yang kurang memiliki rasa aman, ketentra-man dan ketenangan jiwa, karena hilangnya akar kebaikan dan sumber keutamaan dan kesempurnaan manusia.2

Secara spesifik Al-Qur’an mempunyai satu surah bernama al-Qiyāmah, (lihat al-Qiyāmah/75: 1 dan 6). Walaupun demikian, nama-nama hari Kiamat disebut dengan istilah yang beragam dalam Al-Qur’an, antara lain: as-sa’ah (Gäfir/40: 59), yaumul-ba’s (ar-Rūm/30: 56), yaumud din (al-Fatihah/1: 4), yaumul-hasrah (hari penyesalan) lihat Maryam/19: 39, ad-dar al-akhirah (al-‘Ankabüt/29: 64), yaumuttanád (Gafir/40: 32), darul-qarar (negeri yang kekal) lihat Gafic/40: 39, yumd fout (hari keputusan) lihat as-Saffat/37: 21. ymamal-jom (asy-Syüra/42: 7), yourmal hisch (Sad/38: 53), yaumul-wa’id Chari ancaman) lihat Qaf 50: 20, youmul khulüd (Qaf/50 ( youmul-khurüj, hari keluar dari kubnur 35) (Qaf/50: 42), al-waqi’ah, peristiwa yang dahsyat (al-Waqi’ah/56: 1), al höggah, hari yang pasti terjadi (al-Haqqah /69: 1-3), at-tämmah al-kubrä, malapetaka besar (an-Nazi’ät/79, 34), as-säkhkhah, suara yang memekakan (‘Abasa/ 80: 33), al-azifah, kiamat (an-Najm/53: 57), al-qari’ah (al-Qari’ah/101: 1-3). Dalam beberapa hadis Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam dapat disarikan bahwa ada beberapa informasi yang menjelaskan bahwa kiamat datang secara tiba-tiba-setelah tanda-tan-danya bermunculan. Tidak akan datang hari Kiamat hingga kejahatan makhluk mencapai puncaknya.

  • Tanda-tanda Kiamat

Kata asy-syart berarti tanda, jamaknya asyrät. As-sa’ah menurut bahasa berarti bagian siang dan malam, jamaknya as-säät, sehari semalam, 24 jam. As-sa’ah menurut istilah adalah waktu terjadinya hari Kiamat. Kiamat dinamakan demikian karena cepatnya hisab pada hari itu, atau karena manusia terkejut seketika, dan semua yang dinamakan makhluk mati dengan satu tiupan. Al-asyrät as-sa’ah adalah tanda-tanda kiamat yang menda-hului kedatangannya dan menunjukkan telah dekatnya hari tersebut. Dia adalah sesuatu yang terkadang diingkari manusia karena nampak kecil urusannya; dan dia merupakan sebab-sebab kiamat yang terjadi

sebelum terjadinya tanda-tanda yang besar dan sebelum terjadinya kiamat itu sendiri. Istilah asyräțuha juga secara eksplisit disebut dalam Surah Muhammad/47: 18:

فَهَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّا السَّاعَةَ اَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةًۚ فَقَدْ جَاۤءَ اَشْرَاطُهَاۚ فَاَنّٰى لَهُمْ اِذَا جَاۤءَتْهُمْ ذِكْرٰىهُمْ

Maka apalagi yang mereka tunggu-tunggu selain hari Kiamat, yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, karena tanda-tandanya sungguh telah datang. Maka apa gunanya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila (hari Kiamat) itu sudah datang? (Muhammad/47: 18)

Ayat enam belas Surah Muhammad berbicara tentang kebodohan orang munafik, dan kepicikan pemahaman mereka tatkala mendengarkan apa yang sudah disampaikan Rasulullah şallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalah hari Kiamat, dan mereka tidak memerhatikannya. Mereka itulah orang-orang yang mengi kuti hawa nafsu dan telah dikunci mati hati mereka oleh Allah. Akibatnya, mereka tidak mempunyai pemahaman yang benar dan tidak mempunyai maksud yang benar. Kemudian di ayat delapan belas Allah berfirman: “Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadarannya itu apabila hari Kiamat telah datang?” Maka untuk apa orang-orang kafir itu sadar pada saat hari Kiamat datang kepada mereka, semuanya itu tidak akan memberi manfaat apa-apa lagi.

Menurut para ulama, kiamat mempunyai tiga arti, pertama yaitu kiamat kecil yakni matinya manusia. Barang siapa mati berarti telah datang kiamatnya. Kedua kiamat sedang (pertengahan) yaitu matinya semua orang pada satu generasi. Ini dikuatkan hadis yang diriwayatkan ‘Aisyah, ia berkata, “Orang orang Arab jika mereka datang kepada Rasulullah soallallahu ‘alaihi wa sallam mereka bertanya kepada beliau tentang Kiamat, “Kapan akan terjadi Kiamat?” Kemudian Rasul melihat kepada yang paling muda di antara mereka dan bersabda, “Jika orang ini hidup tidak sampai lanjut usianya, maka kiamat kalian telah datang.” artinya ialah kematian mereka. Dan yang dimaksud dengannya ialah kiamat/kematian orang-orang yang beliau ajak bicara pada waktu itu. Ketiga, kiamat besar, yaitu kebangkitan manusia dari alam kuburnya untuk dihisab.

Percaya kepada hari Kiamat adalah bagian dari rukun Iman dan akidah Islam yang fundamental. Tidak ada seorangpun 91 yang mengetahui kecuali Allah tentang kapan persisnya hari Kiamat datang. Ayat Al-Qur’an menerangkan tentang akan datangnya hari Kiamat dan keadaan hari tersebut. Sementara Hadis Nabi şallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang tanda-tandanya. Iman kepada hari akhir dan tanda-tandanya termasuk percaya pada alam gaib yang tidak dapat dijangkau rasio; dan tidak ada jalan lain untuk mengetahuinya kecuali melalui wahyu. Pengetahuan tentang hari Kiamat termasuk rahasia Allah yang tidak diketahui oleh makhluk-Nya, termasuk malaikat dan para rasul. Firman Allah dalam Surah al-A’raf/7: 187, al-Ahzab/33: 63 dan an-Nazi’ät/79: 42-44:

سْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَۘ ثَقُلَتْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ لَا تَأْتِيْكُمْ اِلَّا بَغْتَةًۗ يَسْـَٔلُوْنَكَ كَاَنّكَ حَفِيٌّ عَنْهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ۝١٨٧

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) ambang Klamat, “Kapan terjadi? Katakanlah “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat tu ada pada Tuhanku tidak ada (seonang pun) yang dapat memintaskan waktu terjadinya selain Dia (Kiamat) ini sangat berat (huru-haranya bagi makhluk yang di langit dan di bumi tidak akan datang kepadamu kecuali secara tibo-tiba Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakaniah (Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-A’raf/7: 187)

Pembicaraan tentang hari Kiamat pada ayat di atas menyangkut waktu kedatangannya. Ketika itu kaum musyrik bermaksud mengejek Nabi şallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengajukan pertanyaan tentang waktu datangnya kiamat yang pada hakikatnya mereka tidak mengakuinya, atau orang Yahudi yang bermaksud menguji Nabi Muhammad şallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka pun mengetahui bahwa hanya Allah subhanahu wa ta’ālā yang tahu masa kedatangannya. Siapa pun yang bertanya, yang jelas mereka kaum musyrik atau orang Yahudi menanyakan kepada Nabi, untuk mengejek dan mengujinya. Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk menjawab: “Katakanlah sesungguhnya pengetahuan tentang waktu kedatangan dan rincian peristiwa Kiamat hanyalah di sisi Tuhan Pemelihara dan Pembimbingku; tidak ada satu pun makhluk yang dapat menjelaskan

waktu kedatangannya selain Dia Yang Maha Mengetahui” Kiamat itu amat berat dan mencekam bagi makhluk yang di langit dan di bumi serta sangat besar huru-haranya. Kiamat itu tidak akan datang melainkan huru-baranya muncul secara tiba-tiba. Mereka bertanya kepada Nabi tentang rincian hari Kiamat seakan-akan engkau (Muhammad) benar benar mengetahuinya. Dia telah menetap kan tidak memberitahu siapa pun tentang waktu kedatangannya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, sehingga mereka terus bertanya dan menduga-duga

Kata as-sa’ah telah menjadi istilah Al-Qur’an yang bermakna akhir masa kehidupan duniawi serta kepunahan alam guna memasuki tahap hidup baru di akhirat. Hari tersebut dinamai demikian karena singkatnya waktu itu ditinjau dari sisi kuasa Allah subhānahü wa ta’ālā serta begitu mendadaknya, sehingga manusia tidak mempunyai waktu sesaat pun untuk menghadapinya. Kata innamā yang digunakan ayat di atas mengandung makna pembatasan dalam arti hanya Dia, tidak selain-Nya. Dengan demikian, pengetahuan tentang waktu kedatangan kiamat hanya di sisi Allah, tidak terdapat pada selain-Nya. Bahwa ada tanda-tanda yang diinformasikan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, itu sama sekali tidak mengungkap kapan waktu datangnya karena tanda-tanda tersebut terjadi pada masa-masa yang sangat panjang. Di sini dapat disebutkan bahwa beratnya kiamat di langit dan bumi mencakup beratnya pengetahuan tentang hal tersebut, beratnya wujud dan kejadian-nya, serta beratnya bencana dan tanggung jawab yang harus dipikul ketika itu.

Tiada yang dapat menjelaskan waktu kiamat kecuali Dia, yakni pengetahuan tentang hal itu hanya di sisi Allah. Dia lah yang mengetahui secara pasti kapan terjadinya kiamat. Tidak ada seorang pun, tiada malaikat yang dekat, dan tiada nabi yang diutus yang mengetahuinya, selain Dia. Oleh karena itu, Allah berfirman, “la terlalu berat bagi langit dan bumi. Yakni pengetahuan mengenai waktu terjadinya kiamat adalah terlalu berat bagi penduduk langit dan bumi, dan terlalu samar sehing ga tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengetahuinya.”

Dirahasiakannya kedatangan kiamat, demikian juga kematian, antara lain adalah agar masing-masing orang siap dengan amal kebajikan dan menjauhi kedurhakaan. Itu sebabnya ketika salah seorang bertanya kepada Nabi şallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kapan kiamat?” Beliau balik bertanya “Apa yang telah engkau persiapkan menyambut kedatangannya.” Si penanya menjawab: “Saya tidak mempersiapkan banyak salat atau puasa. Yang saya siapkan hanya cinta kepada Allah dan RasulNya.” Nabi şallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan: “Kelak, sese orang akan bersama siapa yang dicintainya” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Anas).

Hal ini juga dijelaskan Allah dalam Surah al-Ahzab/33: 63:

سْـَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِۗ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوْنُ قَرِيْبًا ۝٦

Manusia bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat Katakanlah, “Ilmu tentang hari Kiamat itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat waktunya. (al-Ahzab/33:63)

Allah subhanchi wa ta’älä memberitahu kan kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia akan ditanya oleh manusia soal kiamat. Kemudian Allah membimbingnya agar dia mengembalikan persoalan kiamat itu kepada Allah. Hal ini sebagaimana difirmankan-Nya dalam Surah al-A’raf yang termasuk kelompok Surah Makkiyyah, dan Surah al-Ahzab yang termasuk Surah Madaniyyah. Namun keterangan kepada keduanya sama, yaitu keharusan bagi Nabi untuk mengembali-kan persoalan kiamat kepada yang mengadakannya. Namun di sini Allah berfirman, “Dan tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat waktunya.” ini seirama dengan firman-Nya yang lain dalam Surah al-Qamar/54: 1, “Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah

Kebanyakan kaum mukmin yang bertanya tentang hari Kiamat karena terdorong rasa ingin tahu tentang yang gaib baik menyangkut kenikmatan ukhrawi maupun siksa-Nya. Adapun orang Yahudi yang bertanya tentang kedatangan kiamat pada umumnya bertujuan menguji Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencari-cari kesalahan beliau. Lanjutan ayat tersebut mengesankan bahwa yang bertanya adalah orang-orang kafir, dengan tujuan mengejek atau menguji, sebab seandainya pertanyaan tersebut hanya didorong oleh rasa ingin tahu-dan siapa pun-maka tidaklah pada tempatnya ayat 64 menyatakan bahwa, “Sesungguhnya Allah mengutuk orang-orang kafir.” Selanjutnya penggalan ayat la’allas-sa’ata takūnu qarībā, ulama memahaminya

dalam arti boleh jadi kiamat itu sudah dekat boleh jadi juga masih jauh, dan engkau wahai Nabi sama sekali tidak mengeta huinya. Adapun kalimat wo mi yurika digunakan Al-Qur’an untuk sesuatu yang sama sekali dan kapan pun tidak dapat diketahui tentang kedatangan hari Kiamat walaupun oleh Rasulullah sendiri.” Selanjutnya firman Allah dalam surat an-Nazi’ät/79: 42-44:

 

سْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ

فِيْمَ اَنْتَ مِنْ ذِكْرٰىهَاۗ

اِلٰى رَبِّكَ مُنْتَهٰىهَ

Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, “Kapankah terjadinya?” Untuk apa engkau  perlu menyebutkannya (waktunya)? Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya (ketentuan waktunya). (an-Nazi’ät/79: 42-44)

Ayat ini mengecam orang yang durhaka, antara lain dalam sikap mereka menghadapi hari kebangkitan, padahal bukti keniscayaannya, nasihat dan peringatan sudah disampaikan, demikian al-Biqä’i menjelaskan munasabah ayat ini dengan ayat sebelumnya. Mereka terus menerus bertanya kepada Nabi tentang hari Kiamat dengan nada mengejek. Yakni mereka bertanya tentang hari Kiamat kapankah terjadinya. Rupanya terdorong oleh keinginan Nabi şallallahu ‘alaihi wa sallam agar kaum musyrik percaya, maka terlintas dalam benak beliau harapan agar Allah memberi jawaban tentang pertanyaan mereka. Untuk menampik harapan itu Allah berfirman, “Siapakah engkau sehingga dapat menyebut waktunya?” Lalu Allah

menegaskan bahwa hanya kepada Tuhan Pembimbing dan Pemeliharamu sajalah kesudahannya. Pengetahuan dan infor masi tentang kiamat tidaklah diserahkan kepada kamu dan tidak pula kepada orang lain, hanya Allah saja yang tahu, sebagaimana firman-Nya, “Dan saat itu tidak akan datang kecuali dengan tiba-tiba “Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesu dahannya”, ayat ini seirama dengan firman-Nya, “Katakanlah, sesungguhnya ilmunya hanya di sisi Allah.” Kemudian firman Nya, “Kamu hanyalah pemberi peringatan kepada ummat manusia dan mewanti-wanti mereka dari siksa Allah dan hukuman-Nya.”

Kata mursähä pada mulanya berarti tempat berlabuh, yakni tempat berhentinya perahu berlayar dan tibanya pada tujuan. Kata ini pada umumnya digunakan pada hal-hal yang mantap dan berat. Penggunaannya untuk tiba datangnya hari kemudian mengisyaratkan bahwa hari tersebut sungguh berat. Bahwa tibanya hari kemudian dilukiskan dengan kata tersebut, karena memang Allah menciptakan alam raya untuk tujuan tertentu, dan dengan tibanya kiamat, maka tujuan penciptaan alam sebagai tempat makhluk hidup telah

tiba. Sedemikian dirahasiakan kedatangan hari Kiamat sehingga firman-Nya dalam Surah Tähä/20: 15:

 

نَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ اَكَادُ اُخْفِيْهَا لِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍ ۢ بِمَا تَسْعٰى ۝١٥

Sesungguhnya hari Kiamat itu (pasti) akan datang. Aku hampir (benar-benar) menyembunyikannya. (Kedatangannya itu dimaksudkan) agar setiap jiwa dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahaka

Pada umumnya para ulama membagi tanda-tanda kiamat kepada dua bagian yaitu tanda-tanda kecil terjadinya kiamat (sugra), dan tanda tanda besar datangnya kiamat (kubra). Kemudian yang disebut terakhir ini terbagi menjadi dua yaitu tanda-tanda besar kiamat yang biasa, dan tanda-tanda besar kiamat yang luar biasa. Dari segi kemunculan tanda-tandanya, sebagian ulama membagi kiamat kepada tiga bagian, yakni ia telah muncul dan telah pula berlalu, ia telah muncul dan senantiasa berkembang secara terus menerus, dan ia belum muncul hingga saat sekarang. Tanda-tanda pertama dan kedua termasuk tanda-tanda kiamat kecil dan bagian ketiga, sebagian termasuk tanda-tanda kiamat kecil dan sebagian lainnya masuk ke dalam tanda tanda kiamat besar. 15

Harus disadari bahwa banyak di antara tanda-tanda kiamat telah tampak sejak zaman Rasul dan sahabatnya. Tanda-tanda itu tumbuh, berkembang dan merebak di berbagai tempat, dan seiring berjalannya waktu, tanda-tanda tersebut semakin banyak dan semakin kuat. Tanda-tanda tersebut sebagiannya tidaklah termasuk kepada hal-hal tercela, namun merupakan tanda-tanda saja, misalnya dengan semakin banyaknya bangunan megah, populasi perempuan yang semakin banyak, dan lain sebagainya.

 

LTN NU Kab. Tasikmalaya

Maju bersama ummat, umat kuat negara hebat

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button