OpiniWarta

Dialektika Fikih Islam: Kisah Empat Imam dan Pemicu Perpecahan Umat

Oleh : Pengurus DKM al Istiqomah Linggasari Singasari Singaparna

1.      IMAM ABU HANIFAH R.A. (Pendiri Madzhab Hanafi) (8H-150

 

Imam Abu Hanifah adalah Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit bin Zauthi. Beliau dilahirkan di Kufah pada tahun 80 H. Ayahnya adalah seorang hartawan yang merupakan pedagang besar. Karena itu, Imam Abu Hanifah turut berdagang di pasar sebelum beliau mencurahkan dirinya kepada ilmu pengetahuan. Selain berniaga, beliau pun tekun mempelajari dan menghafal Al-Quran Al-Karim dan gemar membacanya.

Pada masa itu, Kufah adalah suatu kota besar, tempat tumbuhnya ilmu dan tempat berkembangnya kebudayaan lama. Di sana pulalah munculnya masalah politik, dasar-dasar aqidah. Ketika Abu Hanifah terjun ke dunia dagang, kecerdasannya menarik perhatian orang-orang yang mengenalnya. Karena itu, Asy-Sya’biy menganjurkan agar beliau mengarahkan kecerdasannya kepada ilmu. Atas anjuran Asy-Sya’biy mulailah Abu Hanifah terjun ke lapangan ilmu. Namun demikian, Abu Hanifah tidak melepaskan usaha niaganya.

Pada umur 22 tahun, Abu Hanifah belajar kepada Hammad bin Abi Sulaiman, yaitu selama 18 tahun hingga gurunya (Hammad) wafat. Beliau mempelajari fiqih Iraqi, yang merupakan saripati fiqih Ali, Ibnu Mas’ud, dan fatwa An-Nakha’iy. Dari Atha, beliau menerima ilmunya Ibnu Abbas dan Ibnu Umar kemudian Imam Abu Hanifah belajar pada ulama-ulama lain yang ada di Mekah dan Madinah. Abu Hanifah berkata, “Aku berada di dalam tambang ilmu dan fiqih, aku menghadiri majelis ulama dan aku taat serta tekun kepada mereka.” Hal tersebut menunjukkan bahwa Abu Hanifah hidup dalam zaman keemasan ilmu pengetahuan. Guru-gurunya juga terdiri atas berbagai golongan, seperti golongan Jama’ah, Imamiyyah, dan Zaidiyyah. Oleh karena itu, Abu Hanifah boleh dikatakan belajar dari murid-murid Umar, Ali, dan Ibnu Mas’ud radhiyallaahu anhum. Mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah SAW. yang mempergunakan daya akalnya untuk ijtihad.

 

Abu Hanifah bertemu dengan beberapa sahabat Rasul, seperti Anas bin Malik (W. tahun 93 H), Abdullah bin Abi Aufa’ (W. tahun 87 H), Watsilah bin Asqa (W. tahun 85 H). Abu Thufail Amir (W. tahun 102 H), dan Sahal bin Sa’ad (W. tahun 88 H). Namun, Abu Hanifah tidak menerima hadis dan meriwayatkan hadis dari mereka. Dengan demikian, Imam Abu Hanifah dapat dimasukkan dalam golongan tabi’in.

Selain itu, Imam Abu Hanifah adalah seorang Mujtahid yang ahli ibadah, sebagaimana disebutkan dalam kitab l’aanatuth Thaalibin: “Bahwasanya Imam Abu Hanifah adalah seorang ahli ibadah, ahli zuhud, dan seorang yang sudah mencapai tingkat ma’rifat kepada Allah SWT.”

 

2   .  IMAM MALIK BIN ANAS (Pendiri madhab Maliki) (93 H-179 H

Imam Malik bin Anas adalah Malik bin Anas bin Abi Amar Al-Asbahi Al-Yamani. Imam Malik dilahirkan di Madinah tahun 93 Hijriah. Beliau dilahirkan dalam rumah tangga ilmu yang tekun mempelajari hadis dan dalam masyarakat hadis dan atsar. Pada saat itu, Madinah adalah pusat ilmu pengetahuan dan menjadi pusat negara Islam di masa Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Madinahlah tempat terbit berbagai fatwa yang diamalkan oleh para sahabat dan tabi’in, hingga datanglah Malik dan menerima warisan yang besar, ilmu hadis dan fatwa. Malik telah menghapal Al-Quran di masa masih sangat muda. Pada masa itu, menghapal Al-Quran itulah yang menjadi tumpuan pertama dari putra-putra yang mendapat didikan agama.

Setelah itu, beliau menyiapkan diri untuk menghapal hadis dan memohon izin kepada ibunya untuk pergi menghadiri majelis-majelis para ulama. Ibunya melepaskannya dengan penuh keikhlasan dan menyuruhnya pergi ke majlis Rabi’ah. Di majelis ini, Malik merupakan murid paling muda, dan beliau mulai mempelajari fiqih ruyi. Setiap catatannya dihapal dengan sempurna.

Di antara ulama yang didatangi oleh Imam Malik ialah Abdur Rahman bin Hurmudz, dan beliau belajar darinya selama tujuh tahun terus-menerus. Pada masa itu, Malik tidak mendatangi majelis-majelis lain. Ibnu Hurmudz yang dijadikan contoh teladan baginya. Dari Ibnu Hurmudz, beliau mempelajari segala perbedaan pendapat para ulama dalam bidang fiqih, dan fatwa.

Di samping belajar kepada Ibnu Hurmudz, beliau pun belajar kepada Nafi. Sekalipun dalam keadaan panas terik matahari, beliau pergi ke rumah Nafi’ yang tinggal di luar kota. Beliau belajar kepada Ibnu Syihab Az-Zuhriy.

Setelah mempelajari hadis dan fatwa-fatwa para sahabat, Malik mengadakan majelis di masjid Nabawi. Majelisnya dihadiri oleh para ulama tabi’in yang datang dari berbagai pelosok. Sebelum melangkahkan kakinya ke medan fatwa, Imam Malik lebih dahulu memperoleh pengakuan ilmiah dari para ulama. Setelah itu, barulah Imam Malik memulai karirnya.

Malik terutama mengumpulkan atsar-atsar para sahabat, tabi’in terutama fatwa para sahabat besar ahli hukum, seperti Umar ibn Mas’ud. Beliau menempati rumah bekas kepunyaan Ibnu Mas’ud. Di sanalah Imam Malik banyak memberikan fatwa-fatwanya.

 

Kitab hadis Al-Muwaththa’ yang disusun oleh beliau hingga sekarang menjadi referensi yang sangat berguna dalam bidang fiqih. Imam Malik wafat pada tahun 179 H, sesudah fiqihnya berkembang dan namanya terkenal ke seluruh dunia.

 

3.      IMAM MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFT’I (Pendiri Madzhab Syafi’i) (150 H-204 H

 

Asy-Syafi’i dilahirkan di kampung Ghuzzah, wilayah Palestina pada Jumat akhir bulan Rajab tahun 150 Hijriah. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Sa’ib bin Abu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthalib bin Abdul Manaf. Ibunya bernama Fathimah binti Abdullah bin Hasan bin Husain bin Ali Bin Abi Thalib.

Asy-Syafi’idilahirkan tepat pada malam wafatnya Imam Abu Hanifah. Oleh karena itu, setelah nama Asy-Syafi’i mulai terkenal, muncul ungkapan. “Telah tenggelam satu bintang dan muncul bintang yang lain.

Asy-Syafi’i lahir di tengah-tengah keluarga miskin. Ayahnya meninggal ketika beliau masih kecil. Kemudian ibunya membawanya ke Mekah. la hidup sebagai seorang anak yatim yang faqir dari keturunan bangsawan tinggi, keturunan yang paling tinggi di masanya, Asy-Syafi’i hidup dalam keadaan sangat sederhana. Namun, kedudukannya sebagai putra bernasab mulia menyebabkan ia terpelihara dari perangai buruk, selalu berjiwa besar, dan tidak menyukai kehinaan diri.

Setelah dididik di Mekah, beliau dimasukkan ke madrasah. Berkat usaha ibunya, beliau telah menghafal Al-Quran pada usia sembilan tahun. Kemudian Asy-Syafi’i melanjutkan belajarnya kepada majelis ulama besar di mesjid Al-Haram yang diasuh oleh dua ulama kenamaan, yaitu Sufyan bin Uyainah dan Muslim bin Khalid Az-Zanji. Dari kedua ulama tersebut, beliau mulai mendalami ilmu-ilmu Al-Quran dan Al-Hadis sekaligus menghapalkannya.

Ketika gurunya, Muslim bin Khalid, memperhatikan kemajuan yang pesat pada Asy-Syafi’i dan menganggapnya telah cukup menguasai persoalan-persoalan agama, beliau diizinkan untuk memberikan fatwa kepada masyarakat. Ketika itu usianya baru lima belas tahun. Sungguhpun telah memperoleh kedudukan yang tinggi tersebut, beliau mencari ilmu karena ilmu itu merupakan lautan tak bertepi.

Ketika beliau mengetahui bahwa di Madinah ada seorang ulama besar yang terkenal dan ahli ilmu dan hadis, yaitu Imam Malik bin Anas, Asy-Syafi’i berniat untuk belajar kepadanya. Sebelum pergi ke Madinah, beliau lebih dahulu menghapal kitab Al-Muwaththa’, susunan Imam Malik yang telah berkembang pada masa itu. Kemudian beliau berangkat ke Madinah untuk belajar kepada Imam Malik dengan membawa surat dari Gubernur Mekah. Asy-Syafi’i menerima didikan sang Imam. Ketika sang guru membacakan Al-Muwaththa, beliau mendengarkannya dengan khusyu’. Setelah agak lama Asy-Syafi’i berkata dengan sopan, “Maaf tuan guru, agar tuan tidak payah, barangkali saya akan meneruskan bacaan tuan guru. Insya Allah saya sudah menghapalkan semua.” Imam Malik merasa bangga mendengar ucapan muridnya itu dan beliau menyimak dengan saksama hapalan hadis dari Asy-Syafi’i.

Sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap musim haji para jamaah haji setelah melaksanakan manasik, mereka berziarah ke makam Rasulullah SAW., dan melakukan shalat Arba’in di mesjid Nabawi sekaligus mengikuti pengajian kitab Al-Muwaththa’ yang diasuh oleh Imam Malik bin Anas. Sejak Asy-Syafi’i berguru kepada beliau, Asy-Syafi’i sering ditugasi menjadi badal (asisten) Imam Malik dalam mengajarkan Al-Muwaththa’ kepada para jamaah haji. Melalui media inilah, nama Asy-Syafi’i mulai dikenal luas. Inilah pula yang menjadi pendorong Asy-Syafi’i untuk mengadakan perlawatan ke Irak, Yaman, Mesir, dan negara lain di kemudian harinya. Singkatnya, Imam Asy-Syafi’i menerima ilmu, fiqih dan hadis dari banyak ulama besar Mekah, Madinah, Irak, dan Yaman.

Imam Asy-Syafi’i pertama mengembangkan madzhabnya di Irak (Baghdad), lalu kembali ke Mekah dan di kota inilah beliau mengadakan majelis ilmu dan madzhabnya mulailah tersebar. Kemudian beliau kembali ke Baghdad dan pada tahun 199 H., beliau pergi ke Mesir. Pada waktu itu kesuburan Ilmu Imam ASy-Syafi’i telah sampai puncaknya. Di kota inilah Asy-Syafi’i membentuk madzhab Jadid-nya dan melepaskan madzhab qadim-nya yang dibentuk ketika di Irak. Di kota ini pula Imam Asy-Syafi’i meng-imla-kan (mendiktekan) kitab-kitabnya kepada murid-muridnya.

 

Imam Asy-Syafi’i wafat di Mesir, tepatnya pada hari Jumat tanggal 30 Rajab 204 Hijriah, setelah menyebarkan ilmu dan manfaat kepada banyak orang. Kitab-kitab beliau hingga saat ini masih banyak dibaca orang, dan makam beliau di Mesir sampai detik ini masih diziarahi orang. *)

 

4.      IMAM AHMAD BIN HANBAL (Pendiri Madzhab Hanbali) (164 H-241 H)

Nama lengkap Imam Ahmad ialah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hasan Asy-Syaibani Al-Marwadzi Al-Baghdadi.

Ahmad dilahirkan di Bagdad pada bulan Rabi ul Awwal tahun 164 Hijriah. Beliau dibesarkan dalam keadaan yatim, karena ayahnya meninggal ketika beliau masih bayi. Sekalipun demikian, Ahmad mempunyai nasab tinggi. Seseorang yang lahir dalam keluarga terhormat walaupun miskin, biasanya memiliki perangai yang baik, beradab tinggi, jika tak ada hal-hal yang menghalangi dan tak ada hal-hal yang menyimpang dari kebiasaaan. Orang yang berasal dari keturunan terhormat, biasanya berusaha meningkatkan diri pada peradaban yang tinggi dan menjauhi perbuatan-perbuatan rendah. Dengan demikian, kemiskinan bagi Imam Ahmad bukanlah alasan untuk merasa hina diri.

Sejak kecil Imam Ahmad telah menunjukkan sifat-sifat pribadi yang mulia sehingga menarik simpati orang banyak. Sejak kecil ia telah menunjukkan minat yang besar kepada ilmu.

Imam Ahmad menerima didikan pertama di Baghdad, kota yang penuh dengan berbagai manusia dengan berbagai adat istiadatnya beserta segala kejayaannya. Keluarga Ahmad yang sejak awal mengharapkan Ahmad menjadi orang beragama yang terkemuka, mendidik beliau dengan segala rupa ilmu yang memungkinkannya menjadi imam besar, yaitu menghapal Al-Quran, Lughah, Hadis, Fiqih, peninggalan-peninggalan sahabat (Atsarul Shahabah), sejarah Rasulullah SAW., keluarga dan sahahabatnya, dan juga sejarah para tabi’in. Didikan ini sesuai dengan kecenderungan Ahmad sendiri.

Untuk lebih memperdalam ilmu, Imam Ahmad pergi ke Basrah dan di kota ini beliau bertemu pertama kali dengan Imam dan sekaligus berguru kepadanya. Beliau juga pergi mencari ilmu ke Yaman dan Mesir. Di antara gurunya yang lain ialah Husyaim bin Bisyr, Abdur Razak bin Human, Imair bin Abdullah bin Khalid, Abdurrahman bin Mahdi, dan Abu Bakar bin Iyasy.

Kitab susunannya yang sangat terkenal hingga sekarang adalah Al-Musnad Ahmad Ibn Hanbal. Imam Ahmad bin Hanbal wafat di Baghdad pada tanggal 12 Rabi ul Awwal 241 H. Sepeninggal beliau, madzhab Hanbali berkembang luas dan menjadi salah satu madzhab yang banyak penganutnya.

  • Pemicu Perpecahan Umat Islam di Masa Lalu

Ketiadaan Kategorisasi Hadis

  1. Sebelum masa Imam Bukhari (wafat 256 H), belum ada kategorisasi hadis (shahih, hasan, dhaif, dan lain-lain). Hal ini menyebabkan kesulitan bagi umat Islam karena banyaknya hadis palsu yang beredar. Selain itu, banyak hadis yang sudah bercampur dengan perkataan Sahabat, sehingga makna suatu perkara menjadi berbeda-beda.
  2. Perbedaan Pendekatan antara Ahlul Hadis dan Ahlur Ra’yi

Umat Muslim terbagi menjadi dua golongan dengan cara pandang yang berbeda dalam menyikapi hadis Rasulullah SAW:

  • Ahlul Hadis: Kelompok ini berpegang teguh pada hadis dan sangat berhati-hati untuk tidak melibatkan penafsiran akal dalam memutuskan hukum. Mereka menerima semua hadis kecuali yang terbukti jelas tidak valid.
  • Ahlur Ra’yi: Kelompok ini justru mengunggulkan ijtihad akal daripada menganut hadis Rasulullah SAW. Alasan di balik pendekatan ini adalah karena kebanyakan Ahlur Ra’yi tinggal jauh dari Mekkah dan Madinah, sehingga akses mereka terhadap hadis sahih cukup sulit. Mereka berpendapat bahwa validitas suatu hadis perlu dibuktikan dengan menilik fakta atau menyelaraskannya dengan hukum logika. Jika suatu kabar yang diduga hadis tidak masuk akal, maka kabar tersebut akan ditolak.

                          Saling Sangka dan Dampaknya

Masing-masing kelompok saling menyangsikan pendapat yang lain:

  • Ahlur Ra’yi menilai sikap Ahlul Hadis membahayakan nilai-nilai Islam karena banyak hadis yang belum terbukti validitasnya, apalagi saat itu belum ada kategorisasi hadis.
  • Ahlul Hadis menganggap sikap Ahlur Ra’yi melemahkan posisi hadis sebagai landasan hukum kedua umat Islam.

Lahirnya Ilmu Kalam

Meskipun terlihat pelik, pergulatan dan dialektika antara Ahlul Hadis dan Ahlur Ra’yi justru melahirkan cabang-cabang ilmu Islam lainnya, salah satunya adalah ilmu kalam. Ilmu kalam berusaha menemukan term-term akidah yang ramai diperdebatkan dan menguatkannya dengan argumentasi rasional.

Singkatnya, perpecahan di masa lalu adalah hasil dari kompleksitas dalam memahami dan menerapkan ajaran Islam, terutama terkait dengan validitas hadis dan peran akal dalam interpretasi. Dialektika ini, pada akhirnya, justru menjadi pemicu utama kemunculan kelompok-kelompok Islam dan lahirnya cabang-cabang ilmu Islam yang berkembang pesat hingga saat ini.

 

 


 

 
 

LTN NU Kab. Tasikmalaya

Maju bersama ummat, umat kuat negara hebat

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button