HikmahNgajiOpini

MENELADANI KISAH NABI ISMAIL DAN MAKNA QURBAN

Oleh : Ust. Dian Rahmat Nugraha, M.Ag

Khutbah Pertama

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا. من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد، فيا أيها الناس، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون. قال الله تعالى في كتابه الكريم:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران: 102).

Allahu Akbar 3x, Walillahilhamd.

Jamaah yang dirahmati Allah, setiap kali Idul Adha tiba, kita selalu diingatkan pada peristiwa agung yang melibatkan Nabi Ibrahim as dan putranya, Nabi Ismail as. Kisah ini bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan pelajaran hidup yang sangat relevan hingga hari ini. Nabi Ismail as, yang sejak kecil sudah diuji dengan berbagai cobaan, menunjukkan ketaatan luar biasa kepada Allah dan ayahnya. Dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 102, Allah berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ

Ketika Ismail telah cukup umur untuk berjalan bersama ayahnya, Ibrahim berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu.”

Ismail menjawab dengan penuh keimanan dan ketundukan, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102). Sikap Nabi Ismail ini menjadi teladan bagi kita tentang arti ketaatan dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah, meski terasa berat.

Saudara-saudaraku, peristiwa qurban yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Ismail bukan hanya sekadar penyembelihan hewan, melainkan simbol penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37).

Dari ayat ini, jelas bahwa inti dari qurban adalah ketakwaan dan keikhlasan hati. Rasulullah saw juga bersabda, “Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah daripada mengalirkan darah (hewan qurban).” (HR. Tirmidzi). Maka, qurban adalah bentuk ibadah yang mengajarkan kita untuk mendahulukan perintah Allah di atas segala kepentingan pribadi.

Jamaah sekalian, bagaimana hukum berkurban dalam Islam? Mayoritas ulama berpendapat bahwa berkurban adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan bagi yang mampu. Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menyatakan, “Berkurban adalah sunnah muakkadah bagi setiap muslim yang mampu.” Namun, sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa qurban hukumnya wajib bagi yang mampu. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2).

Ulama kontemporer seperti Syaikh Yusuf Al-Qaradawi juga menegaskan pentingnya qurban sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan mempererat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Oleh karena itu, bagi yang diberikan kelapangan rezeki, janganlah ragu untuk menunaikan ibadah qurban.

Selain sebagai bentuk ketaatan, qurban juga memiliki hikmah sosial yang sangat besar. Melalui qurban, kita diajarkan untuk berbagi dengan sesama, terutama kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan. Rasulullah saw bersabda, “Makanlah, sedekahkanlah, dan simpanlah (daging qurban).” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan berbagi daging qurban, kita memperkuat ukhuwah Islamiyah dan menumbuhkan rasa empati dalam masyarakat. Ulama kontemporer seperti Prof. Dr. Quraish Shihab menekankan bahwa qurban adalah momentum untuk menumbuhkan kepedulian sosial dan mempererat persaudaraan antarumat Islam. Maka, mari jadikan qurban sebagai sarana untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

 

Jamaah yang berbahagia, peristiwa qurban hendaknya menjadi momen refleksi bagi kita semua. Sudahkah kita meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam kehidupan sehari-hari? Qurban mengajarkan kita untuk rela berkorban demi kebaikan yang lebih besar, baik dalam bentuk waktu, tenaga, maupun harta. Seperti yang dikatakan oleh Syaikh Ali Jum’ah, “Qurban bukan hanya ritual tahunan, tetapi latihan spiritual untuk membentuk karakter mulia.” Mari kita jadikan Idul Adha sebagai titik tolak untuk memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, dan memperkuat komitmen dalam menjalankan ajaran Islam secara kaffah.

Akhirnya, marilah kita berdoa agar Allah menerima amal ibadah qurban kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memberikan kekuatan untuk terus istiqamah di jalan-Nya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas, sabar, dan selalu siap berkorban demi meraih ridha-Nya.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُم في القرآن العظيم ونَفَعَى وَإِيَّا كُم بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ والذكر الحكيم. أقول قول هَذَا وَاستَغفِرُ اللهَ العَظِيمَ الجَلِيلَ لِي وَلَكُم وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ والمُسلِمَاتِ مِن كُلِّ ذنبٍ فَاستَغفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد، فيا أيها المسلمون، اتقوا الله حق تقاته، واعلموا أن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.

Di zaman modern yang serba cepat ini, sering kali kita lupa akan makna pengorbanan sejati. Idul Adha mengingatkan kita bahwa keberhasilan dan kebahagiaan sejati tidak datang secara instan, melainkan melalui proses, pengorbanan, dan kesabaran. Teori “Delayed Gratification” dari Walter Mischel menyebutkan bahwa orang yang mampu menunda kesenangan demi tujuan jangka panjang cenderung lebih sukses. Begitu pula dengan qurban; kita diajak untuk menahan keinginan pribadi demi meraih ridha Allah dan manfaat sosial yang lebih luas. Maka, mari kita jadikan qurban sebagai latihan menahan hawa nafsu dan memperkuat keimanan.

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail juga mengajarkan pentingnya peran keluarga dalam membangun karakter dan keimanan. Nabi Ibrahim sebagai ayah, dan Ismail sebagai anak, sama-sama menunjukkan ketaatan dan keikhlasan. Dalam keluarga, nilai-nilai qurban harus diajarkan sejak dini agar generasi penerus tumbuh menjadi pribadi yang siap berkorban demi kebaikan. Ulama kontemporer, Syaikh Dr. Said Ramadhan Al-Buthi, menegaskan bahwa keluarga adalah madrasah pertama dalam menanamkan nilai-nilai keislaman, termasuk semangat berqurban. Oleh karena itu, mari jadikan keluarga sebagai tempat menumbuhkan ketakwaan dan kepedulian sosial.

Ibadah qurban merupakan salah satu cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya qurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya, dan darahnya akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan qurban di sisi Allah. Ulama seperti Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsirnya menegaskan bahwa qurban adalah bentuk syukur atas nikmat Allah dan sarana untuk membersihkan hati dari sifat kikir. Maka, jangan sia-siakan kesempatan berqurban sebagai jalan meraih pahala dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Selain sebagai ibadah individual, qurban juga berfungsi memperkuat solidaritas sosial. Daging qurban yang dibagikan kepada fakir miskin dan tetangga menjadi bukti nyata kepedulian umat Islam terhadap sesama. Dalam hadis riwayat Ahmad, Rasulullah saw bersabda, “Saling memberi makanlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” Ulama kontemporer seperti Prof. Dr. M. Quraish Shihab menekankan bahwa qurban adalah momentum untuk mempererat tali persaudaraan dan mengurangi kesenjangan sosial. Dengan demikian, qurban bukan hanya ritual, tetapi juga aksi nyata membangun masyarakat yang harmonis dan peduli.

Akhirnya, marilah kita berdoa agar Allah menerima ibadah qurban kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memberikan kekuatan untuk terus istiqamah di jalan-Nya. Semoga Allah memberkahi umat Islam di seluruh dunia, mengangkat segala kesulitan, dan menyatukan hati kita dalam kebaikan. Jangan pernah lelah berbuat baik, karena setiap kebaikan akan kembali kepada diri kita sendiri.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات. اللهم أعز الإسلام والمسلمين، وأذل الشرك والمشركين، ودمر أعداء الدين. اللهم اجعل هذا البلد آمناً مطمئناً وسائر بلاد المسلمين. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

LTN NU Kab. Tasikmalaya

Maju bersama ummat, umat kuat negara hebat

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button