Khutbah Idul fitri 1447 H /2026 M ( Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda )

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Jamaah Shalat Idul Fitri yang Dirahmati Allah,
Hari ini, gema takbir membubung ke angkasa, menandai kemenangan kita setelah sebulan penuh menempa diri dalam madrasah Ramadan. Kita kembali ke fitrah, suci laksana bayi yang baru lahir. Namun, esensi Idul Fitri bukan sekadar merayakan selesainya lapar dan haus, melainkan manifestasi dari ketaatan yang tulus kepada Allah SWT, yang kemudian harus ditransformasikan ke dalam ketaatan sosial dan bernegara.
Khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan takwa dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam konteks berbangsa, takwa mewujud dalam bentuk menjaga persatuan dan stabilitas tanah air yang kita cintai ini.
Pemimpin sebagai Pemegang Amanah Ilahi
Dalam ajaran Islam, kepemimpinan bukanlah sekadar jabatan duniawi, melainkan amanah berat yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa’ ayat 58:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلى أَهْلِها وَإِذا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعاً بَصِير
“Sungguh, Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kalian menetapkannya dengan adil.”
Imam al-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini merupakan fondasi bagi para penguasa untuk bertindak adil. Di era modern yang penuh dengan disrupsi informasi dan kepentingan global, seorang pemimpin dituntut memiliki tiga kriteria utama sebagaimana dirumuskan oleh Imam al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sulthaniyyah: Keadilan, Kapasitas Keilmuan, dan Strategi Tata Kelola demi kemaslahatan publik.
Sinergi Pemimpin dan Rakyat: Membendung Perpecahan
Negara kita saat ini tengah menghadapi tantangan besar. Pengaruh luar melalui media sosial dan infiltrasi ideologi asing sering kali berusaha membelah kohesi sosial kita. Di sinilah urgensi sinergi antara pemimpin dan yang dipimpin menjadi mutlak.
Seorang pemimpin harus visioner dan melindungi warganya tanpa memandang latar belakang suku maupun agama. Sebaliknya, rakyat memiliki kewajiban untuk taat. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa’ ayat 59:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
perintah tersebut membawa pada kemaslahatan. Namun, ketaatan ini bukanlah “ketundukan buta”. Islam memberikan ruang bagi rakyat untuk bersikap kritis melalui mekanisme Nasihat.
Sebagaimana hadis dari Tamim al-Dari RA, Rasulullah SAW bersabda:
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ… لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ
“Agama adalah nasihat… bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin Muslim, dan umat Islam pada umumnya.”
Perspektif Kontemporer dan Pakar
Dalam tinjauan sosiologi politik Islam modern, ketaatan kepada pemimpin di tengah gempuran pengaruh luar adalah bentuk social capital (modal sosial) untuk menjaga kedaulatan.
- Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an tentang Khilafah menekankan bahwa ketaatan kepada Ulil Amri adalah demi keteraturan (order). Tanpa kepatuhan, sebuah bangsa akan terjebak dalam anarki yang justru memudahkan pihak asing memecah belah kita.
- Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh al-Dawlah (Fikih Negara) menyebutkan bahwa menjaga stabilitas negara dari rongrongan fitnah luar adalah kewajiban agama yang setara dengan menjaga ibadah mahdah.
- Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa kekuasaan adalah tanggung jawab amanah. Jika pemimpin menjalankan amanah, maka penguatan posisi pemimpin oleh rakyat adalah kewajiban kolektif untuk menjaga maslahah ammah.
- Robert Hegarty dalam teori ketahanan nasional menyebutkan bahwa “kohesi antara elite dan massa” adalah benteng terkuat melawan perang hibrida (informasi) yang saat ini melanda negara-negara berkembang.
- Dr. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar sering mengingatkan bahwa kecintaan pada tanah air adalah bagian dari pengamalan iman yang menuntut kesetiaan pada kesepakatan bangsa.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Jamaah yang Berbahagia,
Saat ini, banyak pihak luar yang ingin melihat bangsa kita terfragmentasi. Mereka menggunakan isu-isu sensitif untuk menciptakan ketidakpercayaan rakyat kepada pemimpinnya. Kita harus sadar bahwa “kebijakan pemimpin harus berorientasi pada kemaslahatan rakyat” (tasharruf al-imam ‘ala al-ra’iyyah manuthun bi al-maslahah).
Jika kita menemukan kekurangan pada pemimpin kita, sampaikanlah dengan norma dan etika, bukan dengan caci maki di ruang publik yang hanya akan menjadi amunisi bagi musuh-musuh bangsa untuk menghancurkan kita dari dalam.
Marilah di hari yang fitri ini, kita perkuat kembali ikatan silaturahmi. Buang jauh-jauh rasa dendam dan sakit hati akibat perbedaan pilihan di masa lalu. Kita adalah satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air. Mari kita saling menopang, bukan saling menjatuhkan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Sebagai penutup, mari kita renungkan bahwa pemimpin yang amanah dan masyarakat yang taat adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya adalah perintah agama yang harus kita tegakkan demi mencapai bangsa yang Baldatun Tayyibatun Wa Rabbun Ghafur.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
(Khutbah kedua berisi doa dan pemantapan materi khutbah pertama)
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِي
Jamaah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah,
Marilah kita tutup rangkaian ibadah kita dengan berdoa kepada Allah SWT. Semoga Allah menjaga persatuan bangsa kita, memberi kekuatan kepada pemimpin kita untuk tetap amanah, dan melapangkan hati kita untuk senantiasa menjadi warga negara yang taat dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَاللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا هَذَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِعِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
“Idul Fitri: Ngajaga Amanah Kapamingpinan sarta Ngandelan Katatan Nasional”
Oleh : Dr. Dian Rahmat , M.SI
“KHUTBAH PERTAMA
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Para Jamaah Shalat Idul Fitri anu Mulya,
Puji sareng sukur hayu urang sanggakeun ka Allah SWT, Dzat anu parantos ngalungsurkeun nikmat sarta karunia-Na ka urang sadaya. Shalawat sinareng salam mugia salamina dicurahkeun ka Jungjunan urang sadaya, Nabi Muhammad SAW, utusan anu nyandak rahmat kanggo alam dunya. Khatib wasiat ka diri pribadi sareng ka para jamaah sadaya, hayu urang ningkatkeun katakwaan ka Allah ku jalan ngalaksanakeun sagala paréntah-Na sarta nebihan sagala larangan-Na.Hadirin anu Dirahmati Allah,
Dinten ieu urang sadaya nuju merayakeun kameunangan saatos sasasih lamina nempa diri dina “madrasah” Ramadan, dugi ka urang uih deui kana fitrah anu suci. Nanging, esensi Idul Fitri sanés mung sakadar merayakeun rengsena rasa lapar sareng haus, tapi mangrupi bukti nyata tina kataatan anu tulus ka Allah SWT, anu salajengna kedah diwujudkeun dina kataatan sosial sarta bernegara. Dina kontéks berbangsa, takwa téh nyata dina wujud ngajaga persatuan sarta stabilitas nagara anu urang cintai.Jamaah anu Bagja,
Dina ajaran Islam, kapamingpinan téh sanés mung sakadar jabatan dunya, nanging mangrupi amanah beurat anu bakal dipertanggungjawabkeun di ahérat jaga. Allah SWT parantos ngadawuh dina Surat An-Nisa’ ayat 58:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلى أَهْلِها
وَإِذا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
Hartosna: “Saéstuna Allah maréntahkeun ka aranjeun supaya masrahkeun amanah ka anu hakna, sarta upama aranjeun mutuskeun perkara di antara manusa, kudu mutuskeun kalayan adil.” Dina jaman modéren anu pinuh ku rupa-rupa fitnah sareng kapentingan global, saurang pamingpin ditungtut kedah gaduh tilu kriteria utama: Adil, Gaduh Élmu, sarta Gaduh Strategi kanggo kamaslahatan balaréa. Pamingpin kedah tiasa ngajaga amanah sarta ngayoman wargana kalayan henteu milih-milih sélér, warna kulit, atanapi agama. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.Para Jamaah anu Mulya,
Nagara urang ayeuna nuju nyanghareupan tantangan anu ageung. Aya pangaruh-pangaruh ti luar, boh tina média sosial atanapi ideologi asing anu hoyong mecah belah persatuan urang. Di dieu pisan pentingna ayana sinergi antara pamingpin sareng anu dipimpin. Islam sanés mung nungtut tanggung jawab pamingpin, tapi ogé maréntahkeun kataatan ti warga masarakat ka pamaréntah anu sah sapanjang mawa kamaslahatan. Nanging, kataatan ieu sanés hartosna “taat buta”. Islam masihan lolongkrang kanggo masarakat supados kritis ku jalan Naséhat. Sakumaha dawuhan Rasulullah SAW: “Agama téh nyaéta naséhat… kanggo Allah, Kitab-Na, Rasul-Na, sarta para pamingpin Muslim sareng masarakatna.” Upami urang ningal aya kakirangan dina diri pamingpin, sanggakeun ku cara anu saé, luyu sareng norma sarta étika. Ulah ku cara nyaci maki di ruang publik anu ngan saukur janten bahan kanggo musuh-musuh bangsa ngancurkeun urang ti jero. Jamaah anu Bagja,
Hayu urang perkuat deui tali silaturahmi. Piceun rasa dendam sarta nyeri haté kusabab béda pilihan di mangsa nu tos kalungkur. Urang téh sabangsa sarta sataneuh cai. Hayu urang silih rojong, sanés silih ragragkeun. Pamingpin anu amanah sarta masarakat anu taat mangrupi dua hal anu teu tiasa dipisahkeun kanggo ngahontal nagara anu Baldatun Tayyibatun Wa Rabbun Ghafur.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
اللهُ أَكْبَرُ
(7x
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Jamaah anu Mulya,
Mangga urang pungkas ieu ibadah ku ngadu’a ka Allah SWT. Mugia Allah ngajaga persatuan bangsa urang, masihan kakuatan ka pamingpin urang supados tetep amanah, sarta ngalegaan haté urang supados janten warga nagara anu taat sarta masihan kontribusi kanggo kamajengan bangsa.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ
وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَاجْعَلْ بَلْدَتَنَا هَذَا آمِنًا مُطْمَئِنَّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ… فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.




