Puasa: Ibadah Universal dari Masa ke Masa
Jauh sebelum Islam datang, puasa telah menjadi bagian dari praktik keagamaan dan budaya di berbagai belahan dunia. Al-Qur’an pun mengonfirmasi hal ini, menyebutkan bahwa puasa diwajibkan bagi umat Islam sebagaimana diwajibkan bagi umat-umat terdahulu. Kisah-kisah tentang puasa ini tersebar di berbagai tradisi agama, menyimpan hikmah dan makna yang mendalam.
Sejarah Puasa dalam Tradisi Agama-Agama
Sebelum Islam, puasa telah dipraktikkan oleh berbagai bangsa dan kepercayaan. Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar menjelaskan bahwa puasa merupakan salah satu rukun ibadah yang diwajibkan bagi umat-umat sebelum Islam. Hal ini menunjukkan bahwa puasa memiliki nilai universal sebagai sarana untuk memperbaiki akhlak dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Muhammad Abduh menambahkan bahwa puasa telah dipraktikkan oleh berbagai kepercayaan, termasuk penyembah berhala seperti masyarakat Mesir kuno, Yunani, dan Romawi. Al-Jurjawi, mengutip Dr. Ali Abdu al-Wahid, menegaskan bahwa puasa adalah ibadah manusia tertua dan tersebar luas di seluruh dunia.
Dalam tradisi Yahudi, puasa pada hari perdamaian (Yom Kippur) adalah wajib, dengan ancaman hukuman mati bagi yang melanggar. Perjanjian Lama dalam kitab Imamat (16:29 dan 23:29-30) menjelaskan ketentuan dan hukuman terkait puasa ini.
Dalam Perjanjian Baru, puasa dilakukan sebagai persiapan menerima firman Tuhan, tanda penyesalan, atau tanda kedukaan. Yesus sendiri berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun (Matius 4:1-2 dan 17:19-21). Tradisi Katolik mengenal masa Prapaskah, yaitu 40 hari sebelum Paskah, sebagai masa puasa dan persiapan diri.
Hindu dan Buddha juga memiliki tradisi puasa dengan tujuan pengendalian diri dan penyucian jiwa. Beberapa kelompok masyarakat juga memiliki tradisi puasa untuk tujuan tertentu, seperti mencari kekebalan dan ilmu gaib. Terdapat juga puasa berbicara, seperti yang dipraktikkan oleh masyarakat asli Australia dan disebutkan dalam Al-Qur’an (Maryam: 26).
Sejarah Puasa Ramadhan dalam Islam
Dalam Islam, sejarah puasa Ramadhan dimulai sejak zaman Nabi Nuh AS. Menurut Imam al-Qurthubi, Nabi Nuh AS adalah orang pertama yang berpuasa Ramadhan sebagai ungkapan syukur atas keselamatan dari banjir.
Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang Yahudi berpuasa pada 10 Muharram (Asyura) sebagai peringatan atas penyelamatan Nabi Musa AS. Awalnya, puasa Asyura adalah wajib bagi umat Islam, tetapi kemudian digantikan dengan puasa Ramadhan pada tahun kedua Hijriyah (Al-Baqarah: 183). Pelaksanaan puasa Ramadhan dilakukan secara bertahap.
Falsafah Puasa
Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan. Puasa adalah sarana untuk membersihkan jiwa (tazhib), membentuk karakter (tadib), dan melatih diri (tadrib). Puasa menumbuhkan rasa empati terhadap sesama, terutama mereka yang kurang beruntung. Puasa melatih kesabaran, disiplin, dan kepekaan terhadap lingkungan. Puasa adalah sarana untuk muhasabah diri, atau mengevaluasi diri untuk bisa turut serta hidup berdampingan dengan orang lain secara selaras, harmonis, tidak ada rasa sombong bagi yang kaya.
Hikmah Puasa
Puasa mengajarkan kesetaraan, karena semua orang merasakan lapar dan haus. Puasa menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Puasa mempererat tali persaudaraan dan kepedulian sosial. Puasa dapat menyehatkan jasmani dan rohani.
Kesimpulan
Puasa adalah ibadah universal yang memiliki sejarah panjang dalam berbagai tradisi agama. Falsafah puasa mengajarkan pentingnya pengendalian diri, empati, dan ketakwaan. Dengan menjalankan puasa, manusia diharapkan dapat mencapai kesempurnaan jiwa dan mendekatkan diri kepada Alloh SWT





